스물 둘: Dua Puluh Dua
Hari Senin para karyawan High Tech masuk kerja seperti biasa. Perbaikan di gedung perusahaan terus berlangsung dan mungkin diperkirakan akan selesai secara keseluruhan dalam waktu tiga hari lagi.
Minwoo masuk kantor dengan suasana hati yang sangat ceria. Ia bahkan bersenandung ria dan sesekali bersiul sejak dari rumah untuk berangkat kerja. Ibunya yang melihat perilaku anehnya itu hanya geleng-geleng kepala. Bahkan para pegawainya pun berbisik-bisik melihat tingkahnya yang tidak bias aitu. Namun Minwoo tidak terlalu memperdulikan hal itu. Kedua tangannya menenteng dua gelas vanilla latte hangat yang barusan dia dapatkan dari kafe di lobi kantornya.
Senyumnya makin lebar saat mendapati Nindya tengah berdiri menunggu lift. Sepertinya semesta benar-benar sedang bekerja sama dengannya untuk membuatnya menjadi lebih dekat dengan gadis itu.
“Selamat pagi.” Sapanya pada Nindya dengan nada riang. Minwoo terkekeh saat menyadari Nindya mengangkat kedua alisnya saat mendengar sapaannya barusan.
“Selamat pagi, tuan presdir.” Balas Nindya dengan sopan.
“Ini untukmu. Aku tahu kau sangat menyukai vanilla latte.” Ujar Minwoo sambil menyodorkan segelas vanilla latte hangat dari tangan kanannya.
Nindya tertegun sambil menatap gelas yang disodorkan Minwoo padanya. Sepertinya gadis itu sama sekali tidak menyangka bahwa Minwoo masih mengingat minuman kesukaannya.
Minwoo tersenyum kecil. “Kau pernah mengatakannya padaku dan ya aku masih mengingatnya. Kebetulan aku tadi membeli dua gelas untuk aku nikmati sendiri. Tapi tiba-tiba saja aku merasa kenyang. Ambil lah.” Ia beralasan. Sebuah kebohongan yang sangat mulus. Tentu saja Minwoo tidak akan memberitahu Nindya bahwa sebenarnya ia memang sengaja membeli minuman itu untuk gadis itu. Gadis itu pasti akan segera berlari menjauh darinya ketika mengetahui hal itu.
Lagi-lagi Minwoo tersenyum saat akhirnya Nindya menerima gelas yang disodorkan olehnya sambil mengucapkan terima kasih. Minwoo menyesap minumannya sambil berusaha menahan senyumannya. Astaga, ia sudah terlalu banyak tersenyum pagi ini.
Lift berdenting dan mereka kemudian masuk ke dalam lift itu. Nindya masuk duluan, kemudian diikuti oleh Minwoo yang kini berdiri membelakanginya. Ketika sampai di lantai tujuan tempat divisi Nindya berada, ia segera keluar lift. Sebelum keluar ia berbalik dan berucap pada Minwoo. “Sekali lagi terima kasih banyak untuk minumannya, Tuan. Saya…sangat menyukainya. Itu pasti.” Ujarnya lagi dengan nada sopan.
Minwoo menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut. “Tentu saja aku tahu itu. Aku tahu banyak tentang dirimu lebih dari yang kau bayangkan, Nindya.”
Sejenak suasana di antara mereka berdua menjadi lengang. Nindya hanya terpaku berusaha memahami kalimat Minwoo barusan. Sebelum ia sempat menjawab, Minwoo berseru, “semoga harimu menyenangkan,” tepat sebelum pintu lift tertutup.
Di dalam lift Minwoo menghela napasnya dengan pelan. Rasanya tidak sabar ingin mengakui segalanya pada gadis itu. Terutama tentang betapa ia sangat merindukan gadis itu bahkan di dalam mimpi-mimpinya sekalipun. Tapi Minwoo tahu ia tidak bisa melakukannya sekarang. Ia hanya perlu menunggu. Menunggu hingga waktu yang tepat.
***
Satu minggu berlalu begitu cepat hingga akhirnya hari inipun tiba. Hari Minggu, hari di mana Nindya dan Tara menyelesaikan masa magang mereka dan harus segala kembali ke Indonesia. Ye Na dan Jae Sung ikut mengantar ke bandara. Kemarin mereka berempat mengadakan acara perpisahan bagi Nindya dan Tara di apartemen kedua gadis itu. Jae Sung bahkan membawa istri dan anaknya. Mereka memasak bersama sejak pagi dan mengobrol hingga sore hari.
“Kalian pokoknya harus datang ke pernikahanku tahun depan ya.” Ye Na sesengukan menahan tangisnya saat memeluk Nindya dan Tara. Tiga bulan lebih dari cukup membuat mereka menjadi akrab seperti teman lama.
“Eonnie, jangan menangis. Melihatmu menangis membuatku jadi ingin menangis juga. Kalau tidak ada halangan kami pasti akan datang ke pernikahanmu nanti.” Ujar Tara dengan nada sedih.
“Iya, jangan menangis, eonnie. Kau ingin oleh-oleh apa dari Indonesia untuk pernikahanmu nanti?” Tanya Nindya yang berhasil membuat Ye Na tertawa di antara tangisnya. Mereka semua tertawa.
“Oppa, terima kasih sudah mengantarkan kami ke bandara. Lain kali datanglah ke Indonesia bersama Hana dan istrimu. Kami akan menunggumu.” Ujar Nindya.
Jae Sung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. “Kalau aku datang ke sana aku pasti akan menghubungi kalian. Kalian juga harus datang kemari. Ingat bahwa kalian sekarang memiliki keluarga baru di sini. Hati-hati ya dan cepatlah selesaikan kuliah kalian. Kami menunggu kalian di High Tech.” Jae Sung memberikan nasihat layaknya seorang kakak laki-laki pada adiknya.
Nindya dan Tara menganggukkan kepala. Meskipun masih tidak yakin akan hasil evaluasi magang mereka di High Tech terkait apakah mereka akan mendapatkan kesempatan bekerja di sana, namun apa salahnya berharap bukan? Setelah berpamitan sekali lagi pada Ye Na dan Jae Sung, mereka akhirnya menarik koper besar mereka untuk masuk ke dalam dan melakukan check in untuk penerbangan mereka.
“Tara, aku mau ke toilet sebentar ya.” Ujar Nindya sesaat setelah mereka selesai melakukan check in dan memasukkan koper mereka ke bagasi.
“Ya udah. Aku tunggu kamu di kursi panjang di sana ya?” Kata Tara sambil menunjuk sebuah kursi panjang yang berada di depan sebuah toko cokelat di samping ruang tunggu.
Nindya mengangguk kemudian dengan cepat melangkah ke toilet. Tidak berapa lama kemudian ia keluar dari tempat itu sambil memeriksa tasnya untuk memastikan bahwa paspornya ada di tempat yang aman. Bisa gawat jika ia sampai kehilangan paspornya. Ia terus merapikan letak tasnya dengan benar hingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Nindya.”
Nindya mendongakkan kepalanya pada sosok yang baru saja di memanggil namanya itu.
“Tuan.” Jantung Nindya nyaris melompat keluar dari tempatnya saat mendapati tubuh tinggi Minwoo tengah berdiri di depannya. Sebuah senyuman terukir di wajahnya yang teduh itu. Sebuah senyuman untuknya. Kedua pipi Nindya terasa memanas. Ia merasa malu dan salah tingkah rasanya. Nindya merutuki dirinya sendiri karena merasa konyol dengan perasaannya barusan.
“Minwoo. Panggil namaku saja. Kita tidak sedang berada di kantor. Kau juga bukan lagi pegawaiku. Aku juga tidak keberatan kalau kau memanggilku oppa.” Minwoo terkekeh saat mengatakan hal itu.
Nindya tersenyum canggung. Ia paham mengapa Minwoo memintanya memanggil laki-laki itu dengan panggilan barusan. Bagaimanapun usia Minwoo sudah tentu lebih tua dibandingkan dengan Nindya. Namun entah kenapa rasanya canggung saja untuk memanggil Minwoo dengan panggilan oppa. Rasanya cara Minwoo memintanya untuk memanggil panggilan tersebut pun terasa berbeda. Seolah…
Apa yang baru saja ia pikirkan?
“Apa yang kau lakukan di sini, Minwoo?” Tanya Nindya dengan raut wajah tenang. Ia melirik ke belakang punggung Minwoo, ke tempat di mana Tara berada. Sahabatnya itu tampak sibuk dengan ponselnya di sana.
“Aku akan melakukan perjalanan bisnis ke Roma. Kebetulan sekali kita bisa bertemu di sini.” Ujar Minwoo sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam mantel hitam panjangnya dengan santai.
“Semoga perjalananmu menyenangkan.” Balas Nindya dengan nada tulus. Dadanya terasa mengembang dan berdebar karena perasaan senang saat mengucapkan hal itu. Tidak, sebenarnya setiap kali mereka berbicara Minwoo selalu saja berhasil membuat Nindya salah tingkah.
Sebenarnya ia agak heran karena Minwoo tampak tengah sendirian. Biasanya selalu ada Kang Joo yang menemaninya kemanapun karena Kang Joo adalah sekretaris pribadi Minwoo.
“Kalau kau mencari Kang Joo, dia tidak ada di sini. Aku memberinya cuti karena dia harus mengunjungi ibunya yang sedang sakit di London.”
Nindya mengerjapkan kedua matanya mendengar nada suara Minwoo yang tiba-tiba saja berubah menjadi datar.
“Ada yang ingin aku katakan padamu. Ini sangat penting. Tadinya aku ingin menghubungimu lewat email. Tapi karena kita sudah bertemu di sini aku rasa aku akan mengatakannya sekarang saja meskipun aku pikir waktunya sangat tidak tepat.” Kali ini nada suara Minwoo terdengar sangat serius. Ia menatap Nindya dengan tatapan yang dalam. Ada kelembutan dan kerinduan yang berbaur di kedua mata Minwoo yang berwarna gelap membuat Nindya tanpa sadar membuang pandangannya ke arah samping. Rasanya ia ingin menangis saja ditatap seperti itu.
“Nindya, ketika aku mengatakan bahwa aku tahu tentang dirimu lebih dari yang kau bayangkan, aku serius saat mengatakan hal itu. Tahun-tahun berlalu sejak terakhir kali kita berbicara waktu itu. Ada banyak hal yang terjadi dan aku nyaris kehilangan batas kewarasanku. Aku larut dalam kesedihan yang mendalam, aku hancur, dan aku terluka.” Minwoo mengernyitkan dahinya seolah menahan kesakitan saat mengatakan hal barusan. “Aku tidak tahu harus memulai darimana untuk menceritakan semuanya padamu. Ada banyak hal yang ingin aku beritahu padamu, tapi bukan sekarang.”
Nindya mengerutkan dahinya. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang barusan dikatakan oleh Minwoo. “Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan barusan. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” Tanyanya dengan nada bingung.
Minwoo tersenyum kecil. Sebuah senyuman yang memiliki banyak arti.
“Kau akan tahu nanti. Tapi sebelum itu aku ingin meminta satu hal padamu.”
“Meminta apa?” Tanya Nindya tidak mengerti.
“Bisakah kau menungguku? Saat ini ada banyak hal yang harus aku selesaikan, termasuk menyelesaikan masa laluku yang sangat rumit. Aku hanya meminta waktu padamu untuk menungguku. Setelah semuanya selesai aku pasti akan segera berlari untuk mendatangimu dan menjelaskan semuanya padamu.”
“Bersediakah kau menungguku hingga waktu itu tiba?” Tanya Minwoo lagi saat ia belum mendapat jawaban dari Nindya.
Nindya tertegun. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa Minwoo berkata seperti itu dan memintanya untuk menunggu laki-laki itu. Apa yang sudah terjadi sebenarnya? Ada banyak hal yang tidak bisa ia mengerti. Nindya ingin bertanya tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya dengan pasti. Ia percaya bahwa Minwoo pasti akan menjelaskan semuanya padanya nanti.
“Aku akan menunggumu.” Ujarnya dengan tegas. Meski masih dilanda kebingungan namun Nindya mendapati raut wajah Minwoo tampak sangat lega saat ia berkata barusan.
Kemudian terdengar panggilan dari operator dari arah ruang tunggu yang memberitahukan bahwa para penumpang penerbangan ke Roma dipersilahkan untuk naik ke pesawat.
“Hati-hati dan sampai jumpa.” Ujar Minwoo sebelum kemudian berlalu dari tempat itu meninggalkan Nindya yang masih sibuk dengan pikirannya.
***
Lima hari kemudian.
“Minwoo, ibu ingin kembali ke tempat tinggal ibu yang dulu.”
Minwoo mengangkat kepalanya dari buku yang sedang ia baca saat mendengar ibunya berbicara. Ia menatap ibunya dengan pandangan waspada. Apa ibunya tidak ingin tinggal bersamanya lagi?
Jin Ae tertawa kecil melihat tingkah Minwoo barusan. “Apa yang kau takutkan, nak? Ibu hanya ingin memintamu untuk mengantar ibu ke sana. Ibu harus membereskan barang-barang ibu di sana untuk dibawa ke sini. Ibu juga belum sempat berpamitan dengan para tetangga di sana.”
Minwoo menghembuskan napasnya dengan lega. Ia mengusap dadanya yang tadi tanpa sadar berdebar kencang karena merasa khawatir denga napa yang dikatakan oleh ibunya. Ia tampak berpikir sejenak sebelum membalas perkataan ibunya.
“Tentu saja, bu. Aku akan mengantarkanmu besok ke sana. Tapi sebelum itu kita harus mampir dulu ke suatu tempat.” Ujar Minwoo yang langsung disetujui oleh ibunya.
Kang Joo nyaris memutar balik mobilnya dari apartemen Minwoo saat mendengar kalimat Minwoo di telepon.
“Apa katamu? Jadi kau memintaku untuk membawa bibi ke sana hanya untuk menemui wanita itu?”
“Aku tidak punya pilihan. Tadinya aku ingin membawa ibu bersamaku ke sini dan kemudian kami akan mampir ke rumah lama ibu. Tapi aku rasa aku perlu berbicara dengan wanita itu sebelum dia bertemu dengan ibuku.”
Kang Joo menghembuskan napasnya dengan kasar. Meskipun ia keberatan dengan rencana Minwoo untuk mempertemukan ibunya dengan selingkuhan Tuan Park di masa lalu, namun akhirnya Kang Joo memilih mengalah dan di sinilah ia sekarang, menyetir mobil bersama ibu Minwoo yang tengah duduk di sebelahnya. Untunglah Jin Ae tidak banyak bertanya padanya tentang alasan mengapa Kang Joo yang menjemputnya bukannya Minwoo. Kang Joo hanya menjelaskan sedikit bahwa Minwoo perlu menemui seseorang karena itulah Kang Joo yang datang untuk menggantikan menjemput Jin Ae. Saat ini Kang Joo menahan dirinya untuk tidak memacu mobilnya dengan kesetanan. Ia khawatir Minwoo akan melakukan hal-hal yang nekat.
Setelah sampai di sebuah rumah tua, mata Kang Joo melihat mobil Minwoo telah terparkir di sana dengan rapi. Kang Joo meminta Jin Ae untuk menunggu sebentar di dalam mobil. Ia lalu turun dari mobilnya dan berjalan ke arah mobil sahabatnya.
“Ada apa?” Tanya Kang Joo pelan.
“Aku akan masuk.” Ujar Minwoo datar tanpa menatap sahabatnya.
“Aku akan izinkan kau masuk. Tapi jangan coba-coba untuk melakukan hal nekat, Park Minwoo.” Kang Joo jelas tahu bagaimana sakit hati Minwoo pada perempuan yang telah menghancurkan keluarganya itu. Tapi apapun yang terjadi Minwoo tidak boleh sampai berbuat nekat apalagi sampai melukai wanita itu.
Minwoo menyeringai, “Itu semua bagaimana ia memperlakukanku. Kau turuti saja perintahku. Bawa masuk ibuku ke sini ketika saatnya tepat.” Balasnya singkat. Ia lalu keluar dari mobilnya dan berjalan menuju rumah tua itu.
“Hei Park Minwoo. Tolong jangan lakukan itu!” Kang Joo berteriak kesal sambil mengikuti Minwoo dari belakang, “Aku benci saat tidak bisa melawannya.” Desisnya pelan.
Tapi Minwoo tidak mengacuhkan teriakan Kang Joo. Kakinya melangkah masuk ke rumah itu dan secara kebetulan ia bertemu dengan seorang wanita bertubuh ringkih dengan rambutnya yang hampir seluruhnya memutih. Perempuan itu sedang duduk di beranda rumahnya sambil memilah-milah beras di tampiannya. Minwoo sempat mengernyitkan hidungnya saat ia mencium bau tidak sedap yang menguar dari tubuh wanita itu. Pertanyaannya terjawab saat ia memperjelas pandangannya pada tubuh wanita itu. Ada luka-luka yang nyaris membusuk di sekitar lengannya. Dalam keadaan normal Minwoo mungkin saja sudah muntah, tapi perasaan marah dan terlukanya mendominasi dirinya hingga ia tidak lagi terlalu peduli dengan hal itu.
Wanita itu menyadari kedatangan Minwoo, ia mendongak dan memandang Minwoo.
“Siapa kau?” Tanyanya dengan was-was.
Minwoo menyeringai mengerikan. Di belakangnya Kang Joo terlihat bersiaga dengan segala kemungkinan.
“Kau tidak mengingatku Nona Goo Young? Ah tidak, maksudku Goo Young.”
Wanita itu menyipitkan matanya memandang Minwoo. Mencoba menggali kembali ingatan lamanya. Tapi sedetik kemudian kedua matanya melebar dan dengan gerakan cepat ia berusaha mundur dari Minwoo, “Kau....”
Tatapan Minwoo menajam dan menusuk, “Benar! Aku adalah Park Minwoo. Anak dari keluarga yang sudah kau hancurkan.”
Goo Young terlihat gemetaran.
“Bagaimana? Apa kau menikmati hidupmu yang sekarang?” Tanya Minwoo sambil menatap mengejek pada Goo Young. Ia menepuk kedua tangannya sambil terkekeh pelan. Kekehannya barusan terdengar seperti sebuah lonceng kematian di telinga Goo Young.
“Mau apa kau?” Nada suara Goo Young terdengar sangat bergetar. Ia ketakutan setengah mati pada sosok di depannya ini.
Bahkan Kang Joo yang berdiri di belakang Minwoo pun ikut merinding merasakan aura gelap milik Minwoo.
Minwoo tertawa. Tapi tawanya terdengar mengerikan, “Seharusnya kau bersyukur aku tidak membunuhmu. Karena pria yang aku panggil ayah itu tidak ada lagi di dunia ini dan aku tidak bisa memberinya pelajaran atas perlakuannya padaku maka kaulah yang aku datangi sekarang. Oh, lihatlah wanita yang malang ini sekarang.” Minwoo berlutut men-sejajarkan tubuhnya dengan Goo Young. Berusaha menahan napasnya untuk tidak mencium bau busuk itu.
“Kau membuat ayahku berpaling dari ibuku. Dan karena kau juga aku harus kehilangan ibuku. Kau.... adalah penghancur keluarga kami.” Nada suara Minwoo terdengar penuh kebencian. Minwoo cukup mengapresiasi kendali dirinya yang bagus. Jika bukan karena itu, pasti sejak tadi ia sudah meloncat ke arah wanita ini dan membunuhnya untuk membalaskan penderitaan lahir dan batin yang selama ini ia jalani. Semuanya karena wanita sialan ini.
Goo Young semakin terlihat ketakutan. Kang Joo melihat itu dengan iba. Dia tidak bisa melakukan apapun sekarang. Mungkin membiarkan Minwoo mengeluarkan kata-katanya pada wanita itu akan membuatnya merasa lebih baik. Minwoo tampak seperti sebuah gunung yang siap memuntahkan laharnya.
"Kenapa? Kenapa sekarang hidupmu terlihat sangat menyedihkan? Di mana kecantikan dan kepolosanmu yang dulu kau gunakan untuk memikat orang-orang kaya?"
“Aahh, aku tahu. Semua yang kau miliki, semuanya sudah hilang ditelan usia. Kasihan sekali kau.” Tangan kanan Minwoo menyentuh ujung rambut Goo Young dengan perasaan jijik yang teramat dalam. Kecantikan yang dulunya berhasil menjerat ayah Minwoo kini lenyap tidak bersisa karena penyakit Goo Young. Bayangan malam itu berputar-putar di dalam benak Minwoo. Malam di mana wanita ini berdiri dan mengadu pada ayahnya bahwa ibu Minwoo telah menyakitinya di saat ibunya sendiri tengah menahan rasa sakit akibat tusukan pisau di perutnya. Perasaan ingin membunuh dalam diri Minwoo muncul sangat kuat. Tapi ia berusaha menekan perasaan itu mati-matian.
“Maafkan aku. Maafkan aku.” Suara Goo Young terdengar seperti tercekik. Ia sungguh terlihat lusuh dan tidak berdaya. Seperti seekor tikus yang menunggu waktunya untuk dimakan oleh kucing.
“Maaf katamu? Kau pikir semuanya akan berubah hanya karena kau mengucapkan kata maaf padaku? Bagaimana caranya kau akan mengembalikan semua yang telah kau rebut dan kau hancurkan? Bagaimana caranya kau membayar penderitaanku selama ini? Dengan apa kau akan membayarnya?! Aku tidak keberatan untuk mengambil nyawamu sekarang juga sebagai gantinya.” Bentak Minwoo dengan suara menggelegar.
Goo Young semakin meringkuk dan menangis ketakutan. Ia merasa benar-benar berada diambang kematian. Penyesalan membanjiri dirinya tanpa henti. Tapi apa gunanya? Waktu tidak bisa diputar kembali.
Minwoo terdiam dengan napas yang terengah-engah menahan amarah yang menggelegak di dalam dirinya. Ia menatap murka pada wanita di depannya ini tanpa ada rasa belas kasihan sedikitpun. Minwoo sangat yakin, kalau saja Goo Young tidak mendapatkan penyakit menjijikkan itu, wanita itu pasti akan terus-terusan menjerat banyak pria kaya berkeluarga di luar sana dengan kecantikannya.
“Kalau kau ingin meminta maaf, maka kau harus melakukannya pada ibuku. Oh, bukan hanya meminta maaf, kau bahkan harus bersujud di kakinya memohon ampun.”
“Minwoo.” Sebuah suara lembut menyapa pendengarannya. Minwoo berbalik dan mendapati ibunya yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana bersama Kang Joo yang telah merangkulnya.
“Lakukan apa yang aku katakan barusan.” Minwoo memerintahkan Goo Young dengan nada dingin. Tanpa berpikir panjang Goo Young segera mendekati Jin Ae dan ia benar-benar bersujud di kaki ibu Minwoo.
“Nyonya, tolong maafkan aku. Tolong maafkan kesalahanku. Aku bersumpah aku telah membayarnya dengan penderitaan yang aku alami sekarang. Tolong maafkan aku.” Goo Young menangis histeris sambil menyentuh kaki Jin Ae.
Jin Ae menunduk menatap Goo Young yang sudah bersujud di kakinya sambil memohon ampun. Raut wajahnya tidak bisa ditebak tapi dalam hatinya ia merasa iba pada Goo Young. Meski begitu melihat Goo Young membuatnya teringat kembali pada peristiwa belasan tahun yang lalu. Peristiwa pengkhianatan oleh mantan suami yang sangat dicintainya bersama wanita ini. Belasan tahun telah berlalu dan Jin Ae sudah bisa memaafkan perlakuan mantan suaminya dulu. Termasuk perlakuan Goo Young padanya. Bak gelas yang telah pecah, meskipun pecahannya direkatkan kembali tetapi retakannya masih ada dan akan tetap ada sampai kapanpun. Begitu pula luka di dalam hati Jin Ae. Meskipun luka itu telah sembuh namun luka itu akan selalu membekas di hatinya di sepanjang hidupnya hingga akhir hayatnya.
“Bangunlah. Kau tidak perlu bersujud padaku.” Ujar Jin Ae dengan nada tenang. Goo Young mendongak dan menatapnya dengan air mata yang membanjiri kedua pipinya. Sementara Minwoo hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh ibunya.
“Aku telah memaafkanmu sejak dulu. Bukan hanya kau yang bersalah tapi juga mantan suamiku. Kalau saja ia tidak memberikan kesempatan padamu untuk mendekatinya, semua ini tidak akan terjadi. Jangan salah paham, aku memaafkanmu bukan karena aku kasihan padamu. Aku pernah sangat ingin membalas perbuatanmu dulu. Tapi aku ingin hidup dengan tenang bersama putraku tanpa adanya rasa dendam di hatiku. Dan penyakit yang kau derita itu, itulah balasan atas perbuatanmu dulu.”
Jin Ae terdiam sambil berusaha mengontrol emosinya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari halaman rumah itu.
“Minwoo, Kang Joo, ayo kita pergi.”
Mereka bertiga melangkah meninggalkan Goo Young yang kemudian kembali menangis menyesali perbuatannya dulu.
“Ibu, jika ibu ingin menangis, menangis lah. Aku ada di sini bersamamu.” Ujar Minwoo saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Kang Joo sudah masuk ke dalam mobilnya sendiri. Sesaat setelah keluar dari rumah Goo Young, Minwoo tidak segera menjalankan mobilnya. Ia melirik ibunya yang tampak tidak baik-baik saja. Jin Ae berkali-kali tampak mengusap sudut matanya yang berair. Kali ini Minwoo mengambil sebelah tangan ibunya dan menggenggamnya. Tangis Jin Ae segera pecah. Tangisan yang sejak lama berusaha ia tahan. Minwoo menarik ibunya ke dalam pelukannya dan membiarkan ibunya menangis sepuasnya. Mereka berdua sama-sama terluka karena masa lalu hingga harus terpisah bertahun-tahun karena keadaan. Sekarang mereka berdua harus menata lagi kehidupan yang sempat hancur. Mulai saat ini Minwoo berjanji untuk selalu membahagiakan ibunya. Tidak akan ada lagi tangis di dalam kehidupannya. Ia akan mengganti tangis itu dengan kebahagiaan yang berlipat ganda.
Bersambung.

Komentar
Posting Komentar