여섯: Enam

 

“Ada satu hal yang sejak kemaren bikin aku penasaran. Kemaren aku iseng nyari pemilik perusahaan High Tech. Coba tebak apa yang aku temuin?”” Tara berujar dengan raut wajah serius ketika mereka sedang sarapan pagi.

Nindya menantap Tara dengan tatapan penuh tanda tanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Tara juga mempunyai pikiran yang sama dengannya untuk mencari tahu tentang perusahaan tersebut. Mungkin saja Tara menemukan sesuatu yang Nindya tidak bisa temukan di internet.

“Masa gak ada fotonya sama sekali?! Gimana kita mau tahu bosnya yang mana.”

Nindya mendesah kecewa. “Kayaknya bosnya emang gak suka muncul di muka umum.”

“Serem gak sih kalau bosnya misterius gitu?” Tara tiba-tiba bergedik sendiri saat mendengar kalimatnya sendiri barusan.

Nindya terkikik, “ngapain serem. Besok kan kita mau ke kantor juga, jadi pasti ketemu sama bosnya, kan?”

Tara manyun sambil menyendok nasi ke dalam mulutnya. “Iya juga sih… Aku udah siap nih. Mau mulai beres-beres darimana?”

 

***

            “Mau makan siang di luar?” Ajak Kang Joo saat ia melihat Minwoo yang terlihat lelah mempelajari berkas-berkas perusahaan di depannya.

            Minwoo menggeleng. Ia bergerak mengambil jasnya yang tersampir di sandaran kursi yang tadi di dudukinya. “Aku akan ke Vanilla House jadi mungkin akan sedikit terlambat kembali ke kantor. Aku dengar ada dua mahasiswi asal Indonesia yang akan magang di perusahaan kita. Aku sudah mengatur penempatan mereka. Tolong beritahu kepala divisi tentang kedatangan mereka.”

            Kang Joo menganggukkan kepalanya dan menghela napas panjang saat matanya melihat Minwoo yang bergerak keluar dari ruangannya.

            Minwoo yang sudah berada di dalam mobilnya segera melajukan mobil itu dengan kecepatan yang tinggi. Sudah menjadi kebiasaannya untuk mengunjungi Vanilla House saat ia merasa suntuk dengan pekerjaannya.

            “Selamat datang, Tuan.” Salah seorang pegawainya menyapanya dengan ramah di dekat pintu masuk kafe itu. Minwoo menganggukkan kepalanya dan segera berlalu ke ruangannya yang terletak di samping pantry. Sesampainya ia di dalam ruangan, ia segera mendudukkan dirinya di kursi kerjanya dan memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

            Vanilla House adalah salah satu impian masa remaja Minwoo yang berhasil ia bangun dengan usahanya sendiri. Impian itu muncul saat ia bertemu dengan gadis itu.

Mengapa? Mengapa bahkan setelah delapan tahun berlalu Minwoo masih belum bisa melupakan gadis itu? Gadis yang tidak pernah ia ketahui rupanya tapi kehadirannya sangat membekas di dalam hati Minwoo. Pertemuan mereka yang sangat singkat itu meninggalkan kesan dan kenangan tersendiri bagi Minwoo.

Alam bawah sadar Minwoo berteriak untuk membangun Vanilla House dengan harapan ia bisa bertemu kembali dengan gadis itu. Tapi bagaimana? Bagaimana ia akan bertemu dan mengenali gadis itu di antara jutaan umat manusia di muka bumi ini? Minwoo juga yakin gadis itu pasti juga tidak akan mengenalinya. Atau mungkin juga sudah melupakannya, melupakan pertemuan mereka bertahun-tahun yang lalu.

Minwoo mulai merasa dirinya sangat mengerikan. Ia sudah jatuh cinta pada gadis yang tidak pernah ia lihat sosoknya dalam dunia nyata. Tapi, sudah tidak ada jalan untuk mundur kembali. Jika memang ia tidak akan pernah bertemu lagi dengan gadis itu, Minwoo akan tetap menyimpan perasaan cintanya ini bahkan sampai jiwa dan raganya sudah tidak ada lagi di dunia ini.

Lamunan Minwoo terhenti ketika ia mendengar suara ketukan di pintunya. Salah satu pegawainya muncul dengan membawa sebuah baki yang berisi segelas milkshake vanilla berukuran tinggi dan sepotong tiramisu cake yang disajikan di sebuah piring berukuran kecil.

Minwoo mengucapkan terima kasih dan segera mencicipi milkshake-nya.

Manis. Seperti biasanya.

 

***

            Hari ini adalah hari pertama Nindya dan Tara magang di perusahaan. Pihak perusahaan mengizinkan mereka untuk masuk pukul sepuluh di hari pertama mereka magang. Tidak disebutkan alasannya mengapa mereka memberikan izin tersebut, tapi sepertinya mereka cukup tahu bagaimana memperlakukan mahasiswa magang dengan sangat baik. Karena jarak apartemen dan perusahaan yang sangat dekat, Nindya dan Tara memilih untuk berjalan kaki setelah mempelajari peta di ponsel kemarin.

“Aku gugup banget hari pertama magang. Apalagi udah lama gak ngomong Bahasa Inggris. Takut gak ngerti mereka ngomong apa.” Tara meringis dengan ucapannya sendiri.

Nindya tertawa pelan. sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama dengan Tara. Hanya saja ia mencoba menenangkan dirinya dengan memikirkan bahwa ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk magang di perusahaan asing dimana sudah tentu mereka akan bertemu orang-orang baru juga dan juga pengalaman yang tidak ternilai harganya. Mereka pasti bisa melakukannya dengan baik.

“Bismillah aja. Kita pasti bisa. Lagian kalau kita gak bisa bosnya gak akan mungkin makan kita kan. Mereka pasti bersedia mengajarkan dan membantu kita untuk beradaptasi dengan suasana kantor.”

Tara terkekeh dan mengangguk setuju dengan perkataan Nindya barusan.

Nindya dan Tara kemudian berhenti menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki. Tidak banyak orang yang berdiri bersama mereka karena puncak keramaian ada pada pukul tujuh pagi tadi. Tidak lama kemudian lampu merah untuk pejalan kaki berubah menjadi hijau. Mereka berdua menyeberangi jalan dengan agak tergesa-gesa. Saat sudah tiba di seberang jalan, mereka kemudian kembali melanjutkan langkah yang tadi sempat tertunda.

Tanpa sadar mereka sudah sampai di halaman perusahaan yang mereka bicarakan sejak tadi. Perusahaan itu sangat tinggi dan besar. Sudah pasti perusahaannya memiliki banyak lantai dan ruangan. Nindya kemudian menggandeng tangan Tara. Mereka lalu melangkah dengan perlahan ke lobi perusahaan itu.

“Waah. Lobinya besar banget, Nin.” Tara berbisik dengan nada berdecak kagum. Nindya sendiri mengiyakan perkataan sahabatnya itu karena ia sendiri pun juga takjub melihat lobi yang luar biasa luas dan mewah ini.

 

Keduanya masih sibuk memandangi sekeliling lobi itu sambil terus melangkah ke meja resepsionis.

“Ada yang bisa saya bantu?” Perempuan paruh baya yang berdiri dari balik meja resepsionis dengan name tag Kim Young Ja itu bertanya pada mereka dengan nada datar. Aksen Korea terdengar kental sekali saat dia berbicara dalam Bahasa Inggris.

  “Eeh, Ya. Kami berdua mahasiswi asal Indonesia yang akan magang di perusahaan ini.” Nindya menyerahkan surat rekomendasi yang mereka miliki pada Young Ja, si resepsionis. Ia dan Tara tersenyum kikuk karena sejak tadi perempuan parah baya itu menatap mereka dengan pandangan tajam dan menyelidik.

Setelah agak lama membolak-balik undangan itu sambil sesekali menatap Nindya dan Tara dari ujung kaki hingga ujung kepala, Young Ja akhirnya bersuara. “Kalian bisa naik ke lantai dua puluh. Kemudian masuklah ke sebuah ballroom di sana.”

Nindya dan Tara kemudian mengucapkan terima kasih pada perempuan itu dan bergerak mendekati lift. “Tante itu kayak gak percaya aja deh sama kita. Risih banget rasanya waktu dia ngeliatin kita tadi.”

Nindya tersenyum kecil mendengar ucapan Tara yang terkesan blak-blakkan itu. Sahabatnya itu memang tipe orang yang sangat cerewet dan apa adanya. Tapi benar yang dikatakan oleh Tara. Resepsionis yang bernama Young Ja itu menatap mereka berdua seolah-olah ia akan menelan mereka hidup-hidup.

Bunyi pintu lift yang terbuka menyadarkan mereka berdua.

“Keren banget ya. Di lantai dua puluh pun mereka punya ballroom.” Tara kembali berdecak kagum saat mereka bersiap untuk masuk ke dalam ballroom tersebut.

“Tapi kenapa kita malah disuruh ke ballroom dulu ya? Apa ada orang lain yang magang selain kita?” Tanya Nindya dengan nada bingung.

Tara juga tampak memikirkan pertanyaan Nindya barusan. “Mungkin mau ada semacam short briefing gitu?”

“Iya, mungkin.”

Mereka berdua kemudian mengambil posisi duduk disebuah meja bundar yang terletak di dekat pintu.

Setengah jam berlalu namun tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan didatangi seseorang.

“Aduh Nin, jangan-jangan mereka lupa kalau ada kita?” Keluh Tara.

Nindya juga memasang wajah bingung sambil berulang kali melirik jam di pergelangan tangannya.

“Maaf, aku terlambat.” Ujar sebuah suara. Nindya dan Tara kompak melihat ke asal suara sambil beranjak bangkit dari duduk mereka. Seorang lelaki muda berpakaian formal masuk ke dalam ruangan itu.

  Mata Nindya melebar. Bukankah itu Kang Joo? Laki-laki yang tidak sengaja dia tabrak di supermarket kemarin pagi? Apa maksudnya ini? 

 Tara menyadari perubahan sikap Nindya. Tapi ia tidak bisa bertanya pada sahabatnya itu karena keadaan yang tidak memungkinkan.

Kang Joo melangkah mendekat ke arah mereka sambil terus memasang sebuah senyuman ramah di bibirnya.

“Seharusnya Presdir sendiri yang akan langsung menyambut kalian tapi berhubung beliau sedang sibuk dan juga sedang mengikuti sebuah meeting penting, jadi aku dimintai olehnya untuk menggantikan beliau dan menyambut kalian.” Senyum ramah masih masih tersungging di bibir Kang joo.

“Baiklah, perkenalkan. Namaku Jo Kang Joo dan posisiku di perusahaan ini adalah sebagai sekretaris pribadi Presdir Park Minwoo. Berdasarkan informasi yang aku dapatkan, kalian akan magang di perusahaan ini selama tiga bulan, benar begitu?” Tanya lelaki itu.

Nindya dan Tara mengangguk cepat. Mereka merasa terkesima mendengar bagaimana fasihnya Kang Joo berbicara dalam Bahasa Inggris seolah ia sudah terbiasa untuk berbicara seperti itu.

“Namun sebelum itu, tentu saja aku harus mengetahui tentang kalian satu persatu. Nona, boleh aku tahu namamu?” Kang Joo menatap Tara.

Tara tergagap, tidak menyangka akan ditanya duluan. “Ehh, ya namaku Tara.”

Saat tiba giliran Nindya, Kang Joo tersenyum simpul, ia sedikit mendekat pada Nindya dan berbisik. “Sudah aku duga, kita pasti akan bertemu lagi, Miss Nindya.

Nindya yang merasa  resah karena jaraknya dan laki-laki itu sangat dekat hanya mengangguk-angguk sambil menunduk.

 “Kamu hutang satu cerita ke aku.” Bisik Tara saat Kang Joo berbalik dan berjalan ke arah pintu.

Nindya meringis pelan. Tidak ada yang perlu diceritakan.

Well, sekarang aku akan menunjukkan tempat magang kalian selama di perusahaan ini. Silahkan.” Kang Joo mempersilahkan Nindya dan Tara untuk keluar dari ballroom itu duluan.

“Ini name tag kalian.” Kang Joo membagikannya satu persatu pada mereka berdua  saat berada di dalam lift, segera saja mereka mengalungkan identitas itu di leher masing-masing.

  “Kalian akan mulai bekerja pukul setengah delapan pagi kemudian pulang pukul enam sore, sama seperti pegawai perusahaan ini. Untuk istirahat juga sama dengan pegawai di sini. Sesuai dengan jurusan kalian di universitas, presdir sudah menempatkan kalian di divisi pemasaran.”

“Ada pertanyaan?” Tanya Kang Joo sambil menoleh pada dua gadis di belakangnya sebelum mereka keluar dari lift.

Nindya mengangkat tangannya. “Apakah seluruh pegawai di sini bisa berbicara Bahasa Inggris?” Ia cukup khawatir dengan permasalahan yang satu itu. Jika mereka harus bisa berbahasa Korea juga, maka habislah mereka.

 Kang Joo tertawa pendek, jangan khawatir, semua pegawai yang bekerja di sini sudah kami seleksi bahasa Inggrisnya. Jadi mereka semua bisa berbahasa Inggris. Beberapa dari mereka malah bisa Bahasa Jepang, Cina, dan Bahasa Indonesia.

Nindya dan Tara menganggukkan kepala.

“Setiap tahunnya ada banyak mahasiswa dari universitas kalian yang magang di sini. Jadi bisa dibilang kehadiran kalian bukanlah hal yang asing di sini. Para pegawai sudah sangat terbiasa dan kalian akan bisa beradaptasi dengan cepat.” Tambah Kang Joo.

Perkataannya barusan cukup membuat Nindya dan Tara merasa sangat lega.

Ada pertanyaan lain?” Tanya Kang Joo lagi.

Tara menginterupsi Kang Joo, “apakah setiap mahasiswa yang magang memang akan selalu disambut oleh presdir sendiri?”

Nindya menahan dirinya untuk tidak menepuk dahinya mendengar pertanyaan Tara barusan. Sepertinya sahabatnya itu masih sangat penasaran dengan siapa pemimpin dari perusahaan ini.

Kang Joo menganggukkan kepalanya. “Biasanya memang seperti itu. Presdir Park memang lebih senang untuk menyambut para mahasiswa secara langsung sekaligus untuk memperkenalkan beliau sebagai pemimpin perusahaan. Tapi yah, sayang sekali beliau tidak bisa menyambut kalian kali ini. Mungkin dilain waktu kalian akan bisa bertemu dengannya.” Katanya dengan nada penuh penyesalan.

“Tidak apa-apa, Tuan. Kami bisa bertemu dengan Presdir Park lain kali.” Hibur Tara. Tampak jelas bahwa ia menyesal telah menanyakan pertanyaan itu barusan.

Kang Joo tersenyum. “Jika kalian bisa memperlihatkan kualitas magang kalian di sini dengan baik, maka kalian akan segera diterima untuk bekerja di perusahaan ini tanpa syarat apapun. Itu adalah pesan Presdir Park.”

Nindya dan Tara melotot terkejut saat mendengar perkataan Kang Joo barusan. Itu adalah tawaran yang sangat menggiurkan. Siapa yang akan melewatkan kesempatan untuk bekerja di perusahaan sebagus ini?

Kang Joo terkekeh menatap reaksi dua gadis di belakangnya. Ia kemudian berhenti di salah satu pintu masuk. “Kalau begitu, ini adalah ruangan divisi kalian. Silahkan masuk. Aku akan memperkenalkan kalian dengan pegawai yang lain.”

Nindya dan Tara menurut patuh dan masuk ke dalam ruangan itu.

Ruangan yang tadinya terdengar ribut karena setiap orang sibuk dengan urusannya seketika menjadi hening saat mereka menyadari kedatangan dua orang gadis di sana. Mereka menghentikan kegiatan dan segera berkumpul di tengah ruangan saat melihat Kang Joo muncul dari arah pintu masuk dan berjalan mendekat ke arah mereka.

“Aku minta maaf telah menganggu pekerjaan kalian sebentar. Seperti yang kalian ketahui setiap tahunnya kita kedatangan mahasiswa magang dari Indonesia dan kali ini mereka aka bekerja bersama kalian. Aku harap kalian bisa memperlakukan mereka dengan baik. Mohon kerja samanya.” Kang Joo berkata dalam Bahasa Korea yang tidak dimengerti oleh Nindya dan Tara.

“Jangan khawatir, Tuan. Kami akan menerima mereka dengan baik.” Seorang pria berumur empat puluh tahunan membungkuk hormat ke arah Kang Joo.

“Terima kasih, Tuan Kim.” Kang Joo mengalihkan tatapannya ke arah dua gadis di sampingnya. “Ah ya, selamat datang di perusahaan ini, aku harap kalian senang magang di sini. Karena kedatangan kalian ke sini merupakan suatu kehormatan bagi kami. Kalau begitu aku permisi dulu.” Senyum ramah Kang Joo masih mengembang di bibirnya. Ia berlalu dari ruangan itu.

“Halo. Saya Kim Joon Woo, kepala divisi pemasaran ini. Mohon kerja samanya. Jika kalian memerlukan bantuanku, kalian bisa mendatangiku. Mejaku yang itu.” Ujar pria yang dipanggil Tuan Kim itu. Ia menunjuk mejanya yang berada di tengah-tengah ruangan di antara meja-meja milik pegawai yang lain. Tuan Kim yang sedikit kaku itu kemudian berlalu ke arah mejanya. Sementara pegawai-pegawai yang lain mulai mendekati Nindya dan Tara untuk memperkenalkan diri mereka dengan antusias.

Well, Nindya rasa hari pertamanya magang tidak seburuk yang dia pikirkan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

스물 둘: Dua Puluh Dua